Tegas Atau Bengis ?

pintu-rosak-boneputraPetugas keselamatan menempuh banyak cabaran dalam menjalankan tugas. Setiap anggota keselamatan wajib punya disiplin dan ketagasan yang tinggi. Namun apa yang perlu diperhatikan adalah tujuan penjagaan keselamatan dan keamanan itu sendiri, salah satunya adalah agar ketenteraman dan kemanusiaan tidak terganggu. Adalah cukup ironis jika operasi petugas keselamatan justru mengaggu ketentraman dan melanggar nilai perikemanusiaan. Tidak dinafikan jika ketegasan memang perlu namun elok janganlah sampai kehilangan hati nurani.
Seperti halnya peristiwa yang berlaku pada 27hb Maret 2016, sepasukan polis bersama rela melakukan serbuan di daerah Kinabatangan, Sandakan pada puku1 tengah malam. Pukul 1 pagi adalah mas puncak tidur, pada masa itu pula pasukan polis menyerbu perumahan kilang sawit. Bak lanun mengepung perumahan lalu beberapa anggota mengetuk pintu pintu rumah dengan kasar. Malam yang patutnya sunyi sepi bertukar huru hara. Mereka mengetuk pintu tanpa kompromi, harus buka dengan segera! Kalau lambat sedikit membuka pintu maka pintu mungkin ditumbuk atau ditendang. Malang nasib sang pintu perumahan yang terbuat dari plywood tipis yang dipasang 25 tahun yang lalu, ada yang pecah ada pula yang bocor kena penganan encik polis. Tak terkecuali rumah penghuninya sedang tidak dirumah, pintunya ditendang untuk membuka dengan paksa. Perlakuan begini tentu saja membuat panik, akibatnya beberapa orang gagal menunjukkan dokumen mereka. Mereka yang gagal menunjukkan dokumen mereka langsung di arak naik lori, tak terkecuali seorang makcik tua yang sudah bongkok. Sebenarnya makcik itu bukanlah PATI, dia hanya tak ingat dimana menyimpan passportnya karena takut dan panik. Sang makcik pun pasrah dan menurut ketika disuruk naik lori. Kalau diberi sidkit saja masa untuk bertenang mungkin beliau boleh mengingat kalau ada menyimpan dokumen dibawah tilam. Tapi malang nasibnya. Kena naik lori tangah malam yang sejuk dengan hanya mengenakan baju tidur yang tidak tebal.
Pengalaman wanita tua itu makin pahit lagi sebab dia bukan terus dibawah ke balai tapi pasukan polis itu masih meneruskan menyerbu perumahan di tempat lain. Dan menurut cerita dari rakan yang ikut tertangkap, suasana di perumahan lain lebih kecoh lagi. Polis melepaskan dua das tembakan membuat makcik itu makin takut hingga terkencing. Akibatnya para tahanan lain juga terpaksa menikmati aroma pesing dalam perjalanan ke balai polis. Sedihnya lagi makcik itu terpaksa tinggal dalam lokap lebih lama dari rakan rakan lain yang dibebeaskan keesokan harinya.
Itu pengalaman yang saya alami dan saksikan sendiri, bukan sekedar omong kosong. Banyak kabar tentang serbuan ditempat lain yang lebih sadis, bahkan sampai ada rumah terbakar dan korban jiwa. Saya hearan mengapa harus bengis, mengapa tidak berperi kemanusiaan. Dan tak kurang pentingnya pada pendapat saya meraka perlu lebih profesional dan adil. Pada apa yang saya lihat dalam serbuan di perumahan jelas mereka menganggap bahwa semua orang adalah bersalah sebelum terbukti tidak bersalah.
Bukan niat ikut campur dalam urusan penguat kuasa menjjalankan tugas. Memang diakui ketegasan dan komitmen penguat kuasa sangat besar pengaruhnya dalam namun,,, namun masih banyak ruang untuk di perbaiki. Saman ini sudah modern dan tidak patut penguat kuasa keselamatan mengamalkan tatacara yang diguna pakai sejak saman penjajahan. Apalah masalahanya kalau bagi makcik tua tu peluang beberaapa minit untuk bertenang untuk mencari dokumen pengenalan atau menghubungi majikan berkenaan. Tak perlulah terjadi angkat pekerja tiga lori penuh orang kemudian ternyata hanya dua atau tiga orang yang benar benar pesalah(tiada dokumen perjalanan yang sah).

Kongsikan

Leave a Reply